Showing posts with label article. Show all posts
Showing posts with label article. Show all posts

Wednesday, January 26, 2011

Berikan Apa Yang Tuhan Minta

Yohanes 4:7
Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: "Berilah Aku minum."

Suatu hari Tuhan Yesus meminta air dari seorang wanita Samaria. Wanita ini merasa aneh, Namun Yesus berkata kepadanya, “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.”

Dari peristiwa yang dicatat oleh kitab Yohanes 4:1-10 itu saya diingatkan bahwa ketika Tuhan Yesus meminta sesuatu dari kita, Dia tidak meminta sesuatu yang tidak kita miliki, selain itu Dia juga telah siap untuk memberkati kita jika kita mau dengan rela hati memberikan apa yang Ia minta.

Banyak contoh di Alkitab tentang hal ini, sebagai ganti air minum yang diberikan kepada Yesus, wanita Samaria yang di sumur itu menerima air kehidupan. Ada juga kisah bagaimana Tuhan memerintakan Elia untuk meminta makan dari seorang janda di kota Sarfat. Sekalipun janda itu tahu, bahwa bahan makanannya hanya cukup untuk sekali makan dengan anaknya setelah itu mereka bisa saja mati kelaparan, namun janda itu taat. Sebagai gantinya Tuhan membuat tepung dan minyak milik janda itu cukup untuk beberapa waktu lamanya (1 Raja-raja 17:8-16).

Tahukah Anda, jika Tuhan meminta sesuatu dari Anda, Ia telah siap untuk memberkati Anda berkali-kali lipat dari yang Anda berikan. Memang terkadang sulit untuk dengan rela hati memberikan apa yang Tuhan minta, seperti kisah janda Sarfat itu, dibutuhkan iman dan percaya untuk melakukannya. Namun percayalah, bahwa setiap pengorbanan Anda, pasti Tuhan memperhitungkannya. Hari ini, jika Tuhan berbisik di hati Anda, dan meminta sesuatu kepada Anda, berikanlah dengan rela hati.

Tuhan tidak pernah meminta dari Anda sesuatu yang tidak Anda miliki, berikanlah dengan rela hati

www.jawaban.com

RancanganKu bukan rancanganmu, jalanmu bukan jalanKu



Maze adalah sebuah permainan dimana kita harus mencari jalan keluar dan jangan sampai terjebak di dalamnya. Maze memiliki banyak pintu dan banyak ruang pula. Setiap ruang terkoneksi oleh pintu-pintu tsb. Ada kalanya ketika kita mulai menyusuri ruang2 tsb, kita bisa kembali ke ruang dimana tadi kita memulai. Ada kalanya kita bertemu jalan buntu, sehingga mau tidak mau kita harus mundur ke belakang. Pandangan kita terhalang oleh dinding2 dan kita tidak tahu apa yang sedang menunggu kita di balik pintu.

Hidup kita seperti halnya permainan tsb. Kita masuk ke setiap keadaan dimana terdapat banyak pilihan. Terkadang pilihan kita tepat, tapi tak jarang pula kita membuat pilihan yang salah. Kadang kita maju selangkah, tapi ada saatnya pula kita mundur dua langkah. Terkadang kita seperti terjebak dalam sebuah keadaan yang sepertinya diam di tempat dan itu membuat kita frustasi. Semuanya serba tidak jelas dan tidak pasti.

Kembali kepada permainan maze di atas. Kita sering menemukan permainan ini dalam majalah2 atau tabloid2. Kita sanggup menyelesaikan permainan itu dengan gampang. Kenapa? Karena kita melihat dari sisi atas. Kita melihat permainan itu secara keseluruhan. Setelah melewati pintu yang ini, kita tahu harus memilih pintu yang mana lagi. Kita tahu isi setiap ruangan. Kita tahu jalannya dari pintu masuk sampai pada pintu keluar.

Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.
Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.
(Yesaya 55:8-9)

Tuhan melihat jalan kita dari atas. Dia melihat dengan sangat jelas sekali. Dia yang lebih tau jalan mana yang harus kita tempuh. Dia menjamin kepastian dalam hidup kita. Bahkan sebelum kita masuk ke ruangan yang pertama, Dia sudah menguasai medan kehidupan kita terlebih dahulu. Dan sesungguhnya Dia ingin kita mendengarkanNya, mengikuti rencanaNya, berjalan di atas kehendakNya. Semua itu agar kita dapat sampai pada pintu keluar dengan kemenangan. Agar kita tidak kalah dengan waktu yang terbatas yang kita punyai untuk menyelesaikan perjalanan tsb.

Bangsa Israel adalah contoh nyata dari pembangkangan atas pimpinan Tuhan. Karena tidak mau menurut pada jalan dan rencana Tuhan, perjalanan mereka dari Mesir ke tanah Kanaan pun harus ditempuh selama 40 tahun. Padahal sebenarnya perjalanan tsb bisa ditempuh dengan waktu yang jauh lebih singkat.

Jadi jikalau kita tahu ada yang lebih tahu daripada pengetahuan kita yang dangkal itu, marilah kita menurut pada Sang Maha Tahu itu dan berjalan dalam rancanganNya, agar tanah perjanjian yang telah dijanjikan itu dapat segera kita masuki.

pokok-anggur.blogspot.com

Tuesday, January 25, 2011

TERMOMETER ROHANI

 
Termometer Rohani adalah suatu disiplin yang harus dimiliki oleh kita semua anak-anak Tuhan. Kemunduran rohani, kesuaman secara rohani tidak dimulai ketika seseorang mendapati dirinya kembali mengingini alkohol, atau hal-hal pornografi. Kemunduran rohani, kesuaman serta mengingini kembali hal-hal yang tidak berkenan dimulai ketika kita acuh tak acuh serta tidak bergairah terhadap Firman Allah dan Pribadi Allah itu sendiri.

Itu terjadi ketika kita mendapati diri kita lebih tertarik kepada hal-hal yang duniawi daripada hal-hal tentang Allah. Rasa Lapar akan Tuhan dan bergairah akan Tuhan adalah Termometer Rohani Kita. Mari kita pikirkan sesuatu yang sederhana secara alami. Hal apakah pertama kali yang hilang dari seseorang yang jatuh sakit? Jika anda pernah jatuh sakit pasti anda masih ingat…..pokoknya anda tidak mau makan. Tidak ada selera untuk makan,  dan tidak ada gairah untuk makan. Itu tandanya orang yang sedang sakit. Tidak berbeda secara rohani, suatu tanda dari kesehatan Rohani adalah memiliki selera atau Gairah kepada Firman Allah dan Pribadi Allah. Sebaliknya tanda dari sakit secara rohani adalah hilangnya selera atau gairah akan Tuhan. Jika ada kerinduan yang mendalam di hati kita akan Allah, maka Kehadiran Allah akan membangkitkan rasa lapar dan haus kita akan Tuhan.  Nabi Yesaya memberitahukan kepada kita dalam Kitab Yesaya   42 : 3 “ Sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya. “ Ungkapan ini secara harafiah merujuk pada nyala lampu yang hampir padam, ketika minyaknya hampir habis. Tuhan tidak akan memadamkan bara yang hampir padam, tetapi justru akan mengobarkannya kembali menjadi api. Ingat, Tuhan terus mencari kita bahkan pada saat kita hanya seperti bara yang hampir padam. Betapa jauh lebih baik kita bekerja sama dengan Tuhan dan memberikan respon kepada-Nya, sebab Tuhan tidak akan memaksakan diri-Nya kepada kita!!!

Hal lain yang dapat membuat kita kehilangan selera atau gairah kita kepada Tuhan adalah karena kita tidak menjaga hati kita dengan segala kewaspadaan.

Amsal 4 : 23 “ Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. “ Artinya di atas segalanya, jagalah hatimu. Tidak ada yang melampaui kepentingan menjaga, mengawasi atau melindungi!!! Hati kita adalah sesuatu yang paling berharga!!! Banyak orang rela menghabiskan uang yang banyak untuk membayar petugas keamanan agar menjaga dan melindungi barang berharga yang mereka miliki. Allah memberitahu kita, milik yang paling berharga di dunia adalah hati kita, bukan barang-barang berharga yang kita punya. Memasuki tahun 2011 ini, biarlah kita menjaga hati kita dari hal-hal yang dapat mencuri gairah kita untuk Tuhan. Karena Dialah satu-satunya Pribadi yang dapat memuaskan kita. “ Tuhan memuaskan jiwa yang dahaga, dan mengenyangkan jiwa yang lapar dengan kebaikan. “ Mazmur 107 : 9. Marilah kita semakin disiplin untuk bergairah kepada Tuhan dan disiplin untuk menjaga hati kita untuk tidak tercemari.

Tuhan telah berjanji, ketika kita mendekat kepada-Nya maka Ia akan mendekat  kepada kita. Tetaplah bergairah dengan Tuhan dan harapkan hal-hal yang luar biasa terjadi dalam hidup saudara setiap hari di Tahun 2011. ( AH ).

hmministry.com

Monday, January 24, 2011

Planning For Success

I don't know who said, "If you fail to plan you plan to fail." There is some truth to that. However, just because you plan does not mean you will not fail. Successful planning takes some other things as well. You can plan all you want, but if you go against God, you will fail!

Proverbs 16:1 says, "To man belong the plans of the heart, but from the LORD comes the reply of the tongue." Again, Proverbs 16:9 says, "In his heart a man plans his course, but the LORD determines his steps." You can plan all you want but if it goes against God's purpose it will fail.

Proverbs 19:21 explains that, "Many are the plans in a man's heart, but it is the LORD's purpose that prevails." If you want to succeed then you need to plan according to God's purposes not yours. One thing that will bring success into an individuals life or that of an organization is following God's purposes.

The above picture is often what planning is about for some people.
Now delving into the purpose of God for your life is a whole other topic which we can cover at another time. I will say that it could be summed up in the greatest commandments (Mark 12:28-31). However, there are individual gifts God gives each of us which also determine the various purposes which God has in mind specifically for our individual lives.
We may all have the same macro-purpose which is shareuniversalsly but then we have micro-purposes by which we uniquely accomplish the larger shared purposes. So in order to plan your life, you must find God's purpose for you based upon his mission, his commands, and your individual gifts. The same is true of an organization. Follow his mission, and his commands by the use of your unique giftedness.

Proverbs 16:3 says, "Commit to the LORD whatever you do, and your plans will succeed." Finding God's purpose in his word, seeking his wisdom in prayer (James 1:5), and acting upon his commands and our conscience is how we commit our way to Him for success. The word for "commit" in Proverbs 16:3 is the Hebrew word "gaw-lal" which means, "to roll together." We must "roll" our way up with the Lord's way, then we will find success. We must align our purposes with His purposes.

The question is, how do we know whether or not we have rolled up our purposes with his? How do we know we are doing his will not just in our macro-planning but also in our micro-planning? Here are three steps toward rolling up your purposes in Gods.


1. Make sure your plans line up according to what God says is right and wrong.

Proverbs 12:5 says, "The plans of the righteous are just, but the advice of the wicked is deceitful." God is just and true. He leads in righteousness ndeceitiet or sin. God's purpose is not for you to sin but to do good. To say it plainly, your plans must obey Biblical teaching or they are NOT in line with God's purpose. God's word and God's will will never contradict each other. For example, it is never God's will that you commit fornication with someone so you can evangelise them. God is never calling you to sin. It's never God's will that you break his commands to accomplish his plans for you.



2. Make sure you get advice from multiple wise advisers

Proverbs 20:18 "Make plans by seeking advice; if you wage war, obtain guidance. " One of the ways God teaches us is by using those who have rolled themselves up in his purposes to the point where they are source of divine wisdom, having walked with God already. Each man contains his own set of unique gifts, insights and wisdom. No man possesses all gifts, insights or wisdom. Therefore, we neeed multiple advisors to gain a full spectrum of knowledge to base plans off of.

Many advisors are necessary. Proverbs 24:6 says, "for waging war you need guidance, and for victory many advisers." How many plans have failed because people rushed in with haste without seeking advice? How many people have listened only to limited advice and lost sight of God's purpose? Even bad advice can make good advice more clear. Wisdom listens to all sides of matter in order to discover the truth. Proverbs 15:22 says, "Plans fail for lack of counsel, but with many advisers they succeed."



3. Make sure you diligently plan and follow your plan rather than hastily choose.

Proverbs 21:5 says, "The plans of the diligent lead to profit as surely as haste leads to poverty."

Too often people rush into things. I have seen people discover the Macro-purposes of God for their life or their church, then they rush to obey them without properly planning God's micro-purposes for them or their congregation. For example, it is one thing to know that God wants you evangelise the lost. But if you rush into it without considering how to approach outsiders, you will disobey God's command (Colossians 4:5) and most likely drive the outsider away from faith rather than to it.

Our church decided we needed two worship services to make room for growth. Wanting to solve the problem, we rushed into it without fully involving many advisors and consulting the deacons over areas of ministry effected by this change. We implementedted it in a short time without giving time for diligent planning and prayer. This haste led to a very bumpy transition.

Success comes to those who plan by discovering God's purposes, hold to His word, seek many advisors, and plan diligently before acting.

scripturist.org

Thursday, January 13, 2011

SUPERMAN (DIDN’T) RETURN


Saya punya seorang saudara kembar yang saat ini sudah tinggal berjauhan dengan saya. Dan saya tiba-tiba teringat sebuah kejadian waktu saya masih tinggal bersama dia. Saat itu sore-sore sepulang jam kantor saya mampir ke kantornya yang berlokasi di salah satu pusat perkantoran elit di Singapore untuk pulang bersama.

Dengan berseri-seri dia menjumpai saya sambil menenteng sebuah kantong belanja bertuliskan DC. Sayapun segera tahu dia baru saja membeli kaos Superman keluaran DC Shop. Harap maklum… kita berdua sesama penggemar superheroes sejak kecil dan Superman merupakan salah satu tokoh favorit kita berdua (dan tentunya jutaaan penggemar Superman lainnya di seluruh penjuru dunia).

Lalu dia mengeluarkan kaosnya sambil menceritakan bahwa kaos yang baru dibelinya adalah model terbaru keluaran DC.  Hmm… harus saya akui kaosnya memang bagus, sayapun dibuat ngiler melihatnya. Dan melihat dia sudah membawa barang bawaan cukup banyak, sayapun menawarkan bantuan untuk membawakan kaos barunya.

Singkat cerita kitapun segera meluncur pulang menggunakan taksi. Berhubung perjalanan ke rumah cukup jauh, saya letakkan barang belanjaan itu di jok mobil tepat di samping saya dan sayapun larut dalam obrolan sepanjang perjalanan hingga akhirnya supir taksi membuyarkan percakapan kita berdua. “Sudah sampai…” katanya. Sayapun segera membayar dan meninggalkan taksi untuk berjalan menuju rumah.

Obrolan tetap dilanjutkan sampai kita memasuki rumah. Setelah tiba di kamar, tiba-tiba dia mengejutkan saya dengan pertanyaan: “Eeh… kaosnya mana?” My God… saya lupa!! Waktu turun dari taksi saya lupa membawa serta kaos barunya! Seketika itu juga saya merasa lemas, saya baru saja melakukan sebuah kesalahan konyol. “Sorry…” jawab saya setelah menjelaskan keteledoran tersebut sekalipun saya tahu sebuah sorry tidak cukup untuk memperbaiki kesalahan yang sudah terjadi.

Saat itu perasaan ini bercampur aduk; antara sedih, kecewa, dan yang terutama perasaan bersalah. Dan sayapun siap untuk menerima omelan dari kembaran saya atas kesalahan ini. Tapi yang terjadi sungguh di luar dugaan, dia malah menjawab “Ya udah… gak apa-apa…” Perkataannya itu terasa seperti air sejuk di tengah padang gurun… begitu menghibur dan menenangkan hati. Lalu saya mengambil inisiatif untuk mengontak perusahaan taksi yang saya tumpangi dan meminta tolong untuk segera menghubungi saya kalau mereka menemukan sebuah kaos superman yang masih baru.

Too bad saya tidak meminta bill taksi tersebut, saya juga tidak mencatat siapa nama supir taksinya. Jadi saya hanya bisa berharap sambil menunggu kabar tanpa ada kepastian. Keesokan harinya perusahaan taksi itu menghubungi saya, dan ternyata mereka tidak menemukan kaos tersebut. Mereka sudah mencoba mencari… tapi informasi yang saya berikan kurang memadai, lagipula barang seperti itu akan dengan sangat mudah diambil siapapun termasuk penumpang berikutnya yang menggunakan taksi itu setelah saya.

Saya pasrah… tidak seperti movie berjudul Superman Returns yang pernah saya tonton dimana Superman kembali setelah menghilang beberapa lama, kali ini Superman didn’t return. Sampai hari ini kaos itu tidak pernah kembali alias raib entah kemana.

Saya percaya dalam hatinya, saudara kembar saya ini pasti kesal. Bagaimana tidak… baru saja beli kaos favorit, belum sempat dipakai… eeh malah hilang. Namun dalam peristiwa ini justru dia dapat menunjukkan kebesaran hatinya. Sebagaimana hidup ini adalah pilihan, dia memilih untuk memaafkan dan melupakan apa yang terjadi. Dia tahu dengan pasti bahwa tuduhan dan kemarahan tidak akan membantu kembalinya kaos Superman namun sebaliknya akan membuat saya tertekan, merasa tertuduh dan yang pasti: terluka.


Setiap pertengkaran pasti akan menimbulkan luka dan goresan di hati sekalipun kita dapat berdamai kembali dengan orang yang bertengkar dengan kita. Barang yang hilang bisa dibeli lagi, tapi hati yang luka bagaimana cara mengobatinya? Itulah sebabnya Richard Carlson menulis sebuah buku best-seller berjudul Don’t Sweat The Small Stuff yang intinya kira-kira menganjurkan untuk tidak meributkan hal-hal kecil. Dan pada dasarnya semua masalah itu kecil… jadi hindarilah pertengkaran dalam setiap masalah.

Inilah yang saya terapkan dalam hubungan saya selama puluhan tahun saya hidup bersama saudara kembar saya. Dan saya percaya ini juga yang harus diterapkan dalam hubungan rumah tangga antara suami-istri. Banyak orang berkata bahwa pertengkaran dalam rumah tangga itu adalah bumbu penyedap yang akan mempererat tali kasih antara suami dan istri. Saya pribadi tidak sependapat dengan pandangan ini karena firman Tuhan tidak pernah mengajarkan hal yang demikian. Sebaliknya, Tuhan mengajarkan kita untuk hidup berdamai, saling mengasihi, saling memaafkan dan bukan menggunakan pertengkaran untuk mempererat tali kasih.

Dengan menerapkan hal ini, saya menikmati hubungan yang paling harmonis sedunia dengan saudara kembar saya. Suatu hubungan yang banyak membuat iri sekaligus kagum orang lain. Saya bahkan lupa kapan terakhir kali saya bertengkar dengannya karena memang kita betul-betul tidak pernah bertengkar. Saya membuktikan bahwa pertengkaran bukanlah bumbu penyedap melainkan racun yang justru dapat membunuh sebuah hubungan. Percayalah… it’s not worth to sweat the small stuff

“Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu. Ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, ia harus mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya.” (1 Petrus 3:10-11)


http://kalam.comuf.com/?p=241

PARADOKS MATA MANUSIA



Dalam perjalanan saya menjadi usher di sebuah gereja di Singapore, sudah beragam tipe jemaat yang saya perhatikan. Mulai dari yang semangat, loyo, langganan telat, bergaya ala fashion show, ngutak ngatik handphone di gereja dan lain sebagainya. Tapi dari antara mereka ada seorang bapak tua yang cukup mencuri perhatian saya. Bapak ini selalu datang sendiri dan hanya ditemani oleh alkitab bersampul hitamnya. Dari minggu ke minggu gayanya pun selalu sama: kemeja polos, setelan jas biru tua, alkitab ukuran besar berwarna hitam. Ia selalu memilih untuk duduk di barisan belakang bahkan yang paling belakang. Sangat sangat sederhana…

Sayapun merasa iba melihat bapak tua ini. Setiap kali saya berpapasan dengannya di pintu belakang, saya memberikan salam dan senyuman kemudian mempersilahkan ia duduk. Dalam hati saya bertanya-tanya: “Mengapa bapak ini bisa berada di sini…? Apakah profesi dia…?” Dan berdasarkan pengamatan saya akan penampilan dan perilakunya, akhirnya saya simpulkan bahwa bapak ini adalah seorang lulusan sekolah tinggi teologi yang mungkin sedang diutus ke Singapore.

Saya yakin ia bukan seorang tokoh atau pendeta terkenal, karena biasanya seorang pendeta di Asia (apalagi yang terkenal) sangat menjaga penampilannya untuk tetap terlihat necis, rapih, dan perlente. Seseorang yang memiliki pengaruh besar juga biasanya memilih duduk di barisan depan karena barisan depan ini biasa diisi oleh para VIP.

Asumsi ini melekat di hati dan pikiran saya sampai tibalah waktunya para usher menerima undangan untuk menghadiri pernikahan seorang keluarga konglomerat. Tidak ada seorang pun yang kenal siapa keluarga konglomerat yang tiba-tiba mengundang ini. Yang saya tahu hanyalah ia ini seorang jemaat dari gembala senior kami.
Saat resepsi pernikahan dilangsungkan, tibalah giliran orang yang “dituakan” untuk memberikan speech. Astaga… saya tidak mempercayai mata saya sendiri: ternyata si bapak tua itu yang memberikan sambutan!

Ternyata bapak itu bernama Yusuf Merukh. Di masa mudanya ia merupakan salah satu tokoh Partai Nasional Indonesia pimpinan Bung Karno dan berhasil menjadi salah seorang kepercayaannya sehingga sering dipanggil masuk ke istana kepresidenan. Bahkan ia juga yang mencarikan tempat tinggal untuk Guntur dan Megawati di kawasan Kebayoran, Jakarta. Setelah berkarir di bidang politik dan sempat menjadi ketua DPRD DKI, ia beralih menjadi seorang businessman yang bergerak di bidang pertambangan.

Di bawah bendera perusahaan Merukh Enterprises yang didirikannya, ia memiliki lebih dari 500 kuasa pertambangan yang menempatkannya sebagai orang dengan julukan “King of Mining”. Perusahaannya semakin menggurita hingga mampu membeli 20% saham PT.Newmont dan baru-baru ini membeli pula sebuah perusahaan pertambangan emas yang terdaftar di London Stock Exchange. Hingga 2008 saja kekayaannya sudah mencapai 174 juta dollar… suatu angka yang sekedar membayangkannya pun saya tidak berani.

Dari sini saya belajar bahwa looks can be deceiving. Apa yang kita lihat itu bisa menipu kita. Manusia cenderung melihat apa yang di depan mata dan oleh karenanya mudah terpikat oleh sesuatu yang terlihat cantik, mewah, mahal, dan sebagainya. Dan tanpa sadar kitapun mulai memberikan penghargaan, penghormatan dan stereotype khusus untuk orang-orang yang dianggap memiliki kriteria-kriteria ini.

Maka dari itulah selain mata jasmani kita, Tuhan memberikan suatu mata yang lain yaitu mata rohani. Mata rohani inilah yang kita sebut dengan IMAN. Sebagaimana yang satu tampak dan yang lainnya tidak terlihat, demikian juga cara kerja kedua mata ini. Dalam banyak hal kedua mata ini bekerja berlawanan. Yang menurut mata jasmani baik, menurut mata rohani tidak baik, yang menurut mata jasmani tidak mungkin, menurut mata rohani mungkin!

Itulah sebabnya firman Tuhan mengajarkan kita untuk berjalan dengan iman (mata rohani) kita dan bukan dengan penglihatan (mata jasmani) kita. Karena iman timbul dari pendengaran akan firman Tuhan dan firman Tuhan sudah terbukti dan teruji kebenarannya, tidak pernah lekang dimakan usia bahkan begitu tajam seperti pedang bermata dua yang mampu membedakan mana yang merupakan emosi, pikiran, perasaan, kehendak di jiwa dan mana yang merupakan kebenaran yang berasal dari Tuhan.

http://kalam.comuf.com/?p=194

AMBIL ROTI DAN IKANKU


Seorang anak kecil berusia tiga belas tahun sedang menuju ke sekolah.
Ia mendengar kumpulan orang sedang tertawa dan memutuskan untuk pergi melihat.
Ribuan orang sedang mendengarkan cerita Seseorang.
Dia berbicara dengan penuh hikmat, bahkan anak-anak pun dapat memahaminya.

Waktu berlalu dengan cepat, siang berganti malam.
Semua merasa lapar namun tidak tampak sesuatupun yang dapat dimakan.
Anak itu melihat kotak makanannya… pada sedikit makanan yang ada di dalamnya.
Diapun berkecil hati, mengingat ribuan orang yang perlu diberi makan.

Lalu dia melihat kerling mata Yesus…
Senyum-Nya yang memancarkan kebaikan.
Dan anak itupun menangis.
Dengan iman seorang anak kecil ia berkata:
Ambillah lima roti dan dua ikanku
Perbuatlah pada mereka sesuai kehendak-Mu
Aku menyerah
Ambil semua ketakutanku, masalahku
Semua bebanku, ambisiku
Engkau boleh menggunakan semuanya itu untuk memberi makan mereka semua
Aku sering berpikir tentang anak itu ketika aku merasa kecil.
Dan merasa kuatir jika apa yang kulakukan tidak berarti apa-apa.

Namun setiap tetesan air mataku merupakan sebuah intan di tangan-Nya.
Dan setiap pintu yang tertutup dihadapanku, aku bawa di dalam doa.

Maka aku akan persembahkan setiap nafas yang kumiliki.
Tuhan, Engkau sanggup melakukan keajaiban.
Semua yang Kau butuhkan hanyalah “Amin” dariku.

Jadi ambillah lima roti dan dua ikanku.
Karena tidak ada persembahan yang terlalu kecil.
Di tangan-Mu apa yang kecil dariku dapat memberkati ribuan orang.

http://kalam.comuf.com/?p=147

Wednesday, January 12, 2011

CINTA


  
"Tanyakan pada dunia apa itu cinta… membuat hidup segan mati tak mau”
“Cinta… penderitaan tiada akhir”


Kalimat pertama di atas diucapkan oleh Lie Mo Chow dalam kisah  Return of The Condor Heroes sedangkan kalimat kedua oleh Chu Pat Kai sang siluman babi dalam kisah Journey to the West.

Lalu jika kita tanya orang-orang lainnya… apa sih cinta itu? Ada yang bilang cinta itu berjuta rasanya, yang lain bilang love is a wonderful thing, I would do anything for love, dan sebagainya. Tapi ada juga yang bilang love hurts. Bahkan seorang penyanyi dangdut di Indonesia menyanyi “Jatuh bangun aku mengejarmu…” Kelihatannya pencipta lagu ini sudah sangat desperate dalam usaha mendapatkan putri idamannya.

Dari sini terlihat bahwa cinta itu sesuatu yang indah tapi bisa menyakitkan juga. Tanyakan pada orang-orang yang mengalami patah hati, betapa menyakitkannya cinta itu. Ada yang membunuh karena cinta dan ada yang bunuh diri karena cinta.

Tetapi cintalah satu-satunya alasan mengapa Tuhan menciptakan manusia. Karena cinta ini jugalah Tuhan mengalami yang namanya patah hati karena manusia kesayangannya memberontak dan meninggalkan Dia. Lalu untuk apa Tuhan menciptakan manusia kalau toh Dia tahu manusia akan berdosa dan memberontak? Jawabannya sederhana: because God is love. Tuhan adalah cinta itu sendiri. God is love bukan God has love. Yang namanya cinta itu butuh obyek dan kitalah obyek cintanya.

Itulah sebabnya Tuhan mencipkatan Hawa untuk Adam, perempuan untuk laki-laki. Tuhan ingin Adam mengerti dan merasakan apa itu cinta… bagaimana rasanya mengasihi seseorang.  Dan mulai saat itu juga lagu-lagu tentang cinta bermunculan, entah tentang manisnya atau pahitnya cinta. Cinta menjadi sumber inspirasi yang tidak ada habis-habisnya bagi para musisi untuk berkreasi.

Kisah-kisah tragis tentang cintapun mulai menghiasi sejarah dunia ini. Bahkan alkitab sendiri mencatat berbagai kisah cinta yang tragis seperti kisah cinta Yakub-Rahel, Simson-Delila, Amnon-Tamar, Daud-Batseyba dan lainnya. Mengapa sesuatu yang indah seperti cinta bisa berujung tragis? Karena sejak manusia jatuh ke dalam dosa, manusia hidup untuk dirinya sendiri. Ada sesuatu dalam diri kita yang ingin dipuaskan, yaitu ego kita. Inilah yang disebut egosentris alias kehidupan yang berpusatkan pada diri sendiri.

Seringkali kita melihat seseorang yang ganteng, cantik, menarik atau terlihat baik lalu tanpa pikir panjang kita sudah memutuskan untuk segera memacari orang tersebut. Kitapun segera merancang strategi untuk bersiap-siap “menembak” buruan kita supaya tepat pada sasaran. Cara macam inilah yang membuat kita lupa adanya “Pribadi Ketiga” alias Tuhan sendiri sebagai sumber cinta yang perlu dilibatkan dalam saat-saat penting seperti ini.

Mungkin ada yang berkata: “Harus cepat bergerak dong… nanti keburu disamber orang laen…” Nah kan… kelihatan betul egoisnya. Kesannya tidak rela kalau orang lain yang mendapat terlebih dahulu. Lalu untuk apa kita berhasil memacari seseorang kemudian harus putus pula? Bukankah itu akan menyakitkan? Seenak-enaknya putus tetap saja ada sakitnya. Apalagi para wanita… butuh waktu yang tidak sebentar untuk bisa recovery jika sudah patah hati.

Tuhan Yesus meminta kita untuk saling mengasihi dan bukan saling menyakiti. Itulah sebabnya kita perlu berhati-hati dalam urusan cinta. Saya percaya segala sesuatu itu butuh proses. Seorang teman memberikan resep ampuh dalam menjalani sebuah hubungan (apapun bentuk hubungannya). Resepnya adalah: JOY yang merupakan kepanjangan dari Jesus Others Yourself. Artinya kita harus menempatkan Yesus sebagai prioritas utama, kemudian orang lain sebagai prioritas kedua, dan setelah itu baru kepentingan kita sendiri. Itulah pola yang diberikan Tuhan bagi hidup kita.
Selamat mencintai dan dicintai. Jesus loves you!

http://kalam.comuf.com/?p=122